latar

Rabu, 04 Agustus 2010

PROPOSAL PRAKTEK KERJA LAPANGAN SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INDUSTRI DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN


I. PENDAHULUAN

Mahasiswa sebagai bagian dari


masyar

akat intelektual di jajaran pendidikan Indonesia, sudah sepatutnya mengetahui, menguasai serta

memiliki wawasan yang luas dibidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Tujuan dari sistem Pendidikan Tinggi di Indonesia adalah menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Diharapkan bahwa ilmu yang telah diperoleh selama belajar di Perguruan Tinggi dapat diterapkan dalam segala aspek kehidupan.

Untuk memenuhi hal tersebut diatas d

iperlukan Praktek Kerja Lapangan sehingga diharapkan mahasiswa tidak hanya mengerti ilmu pengetahuan secara teoritis saja tetapi juga mengerti bagaimana cara penerapannya.

II. LATAR BELAKANG

Dalam melaksanakan program pendidikan,

Sekolah Tinggi Manajemen Industri (STMI) yang keberadaannya di bawah Departemen Perindustrian bertujuan menghasilkan tenaga kerja yang terampil, khususnya dalam bidang Teknik dan Manajemen Industri.

Diharapkan bahwa para lulusan yang dihasilkan mampu memanfaatkan dan menerapkan keahlian dan pengetahuannya secara optimal di lingkungan pekerjaan, baik dalam industri bidang jasa maupun manufaktur, serta menjunjung tinggi keprofesion

alannya.

Oleh karena itu STMI mewajibkan setiap mahasiswanya untuk mengenali dunia kerja secara langsung melalui Praktek Kerja Lapangan dalam jangka waktu yang ditetapkan.

III. MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dan tujuan dari Praktek Kerja Lapangan adalan agar mahasiswa dapat mengerti, memahami serta mampu mengikuti proses yang diterapkan dalam suatu perusa

haan. Diharapkan mahasiswa dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang telah didapatkan secara lebih mudah serta dapat beradaptasi dengan lingkungan pekerjaan yang akan dihadapi.

IV. MATERI

Materi Kerja Lapangan yang akan diambil didasarkan pada mata kuliah yang telah didapatkan hingga semester VI, seperti :

A. MATA KULIAH BERKEHIDUPAN BERMASYARAKAT (MBB)

1. Psikologi Industri

B. MATA KULIAH KEAHLIAN BERKARYA (MKB)

1. Bahasa Inggris I, II

2. Bahasa Indonesia

3. Penelitian Operasional I, II

4. Analisis Dan Perancangan Sistem Kerja I, II

5. Perancangan dan Pengembangan Prod

uk

6. Perencanaan dan Pengendalian Produksi

7. Sistem Produksi

8. Pengendalian Kualitas I, II

9. Perancangan Organisasi

10. Analisa Keputusan

11. Pemodelan Sistem

12. Perancangan Teknik Industri I, II

13. Simulasi Sistem

14. Kewirausahaan

15. Manajemen Kualitas Terpadu & Benchmarking

16. Sistem Manajemen Mutu

17. Teknik Manajemen Proyek

C. MATA KULIAH KOMPETENSI KEILMUA

N (MKK)

1. Program dan Aplikasi Komputer

2. Matematika Terapan I

3. Kimia

4. Fisika

5. Konsep Teknologi

6. Pengantar Teknik Industri

7. Pengantar Ilmu Ekonomi

8. Statistik Industri I, II

9. Pengetahuan Bahan

10. Keteknikan Pabrik I, II

11. Proses Manufaktur

12. Akuntansi dan Analisis Biaya

13. Ekonomi Teknik

14. Manajemen

15. Manajemen Persediaan

16. Manajemen Sumber Daya Manusia

17. Sistem Informasi Manajemen

18. Manajemen Pemasaran

19. Metodologi Penelitian

20. Menggambar Teknik

21. Aljabar Linier

D. MATA KULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN (MPK)

1. Pendidikan Agama

2. Pendidikan Kewarganegaraan

V. BENTUK KEGIATAN

Bentuk kegiatan mahasiswa dalam melaksanakan Praktek Kerja Lapangan ini adalah :

1. Pengenalan dasar terhadap Perusahaan, baik pengenalan bentuk perusahaan, susunan organisasi, sistem produksi dan pengendalian kualitas yang digunakan melalui data dan informasi, dan obyek lainnya dalam perusahaan.

2. Mahasiswa terlibat langsung dalam kegiatan perusahaan.

3. Mahasiswa terlibat langsung dalam membantu pekerjaan perusahaan terutama yang berkaitan dengan sistem produksi dan pengendalian kualitas.

4. Mahasiswa diwajibkan untuk membuat Laporan Kerja Lapangan.

VI. PENEMPATAN

Perusahaan hendaklah menyediakan tempat bagi mahasiswa yang berpedoman pada jenis Praktek Kerja Lapangan yang akan dilakukan oleh mahasiswa, atau berpedoman pada salah satu dari kemampuan akademis yang dimiliki oleh mahasiswa. Demikian pula dengan mahasiswa, hendaknya menyesuaikan antara kemampuan dan keinginan dari perusahaan.

VII. ALAMAT DAN WAKTU PELAKSANAAN

Praktek Kerja Lapangan ini akan dilaksanakan di:

PT BAKRIE PIPE INDUSTR
IES
Jl. Raya Pejuang – Medan Satria
Kota Bekasi - 17131

Waktu pelaksanaan akan dilakukan selama 1 bulan, atau disesuaikan dengan waktu yang ditetapkan perusahaan.

VIII. MANFAAT

A. BAGI PERUSAHAAN

1. Perusahaan mendapatkan tenaga tambahan.

2. Perusahaan dapat memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa.

3. Perusahaan dapat meningkatkan efisiensi, produktifitas, atau memperbaiki kondisi lingkungan kerja berdasarkan saran dari mahasiswa.

B. BAGI MAHASISWA

1. Dapat mengerti dan memahami lingkungan pekerjaan secara nyata.

2. Mendapatkan kesempatan meningkatkan efisiensi dan produktifitas.

3. Mendapatkan ilmu yang baru berdasarkan aktifitas perusahaan.

IX. KEWAJIBAN

Agar pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan mendatangkan hasil yang maksimal, maka masing-masing pihak mempunyai kewajiban yang harus dilaksanakan, yaitu :

A. MAHASISWA

1. Mematuhi peraturan yang berada di perusahaan.

2. Mempersiapkan diri dengan praktek kerja.

3. Menyusun laporan kerja lapangan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah berakhirnya praktek kerja lapangan.

B. SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INDUSTRI

1. Memberikan penjelasan umum mengenai cara pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan.

2. Membekali mahasiswa dengan pengetahuan penulisan laporan kerja.

C. PERUSAHAAN

1. Menunjuk seorang staff atau pegawai yang akan ditugasi sebagai pembimbing.

2. Menunjukkan tempat / unit divisi dalam perusahaan yang akan dijadikan tempat pelaksanaan praktek kerja lapangan.

3. Menunjukkan jenis pekerjaan yang harus dilakukan mahasiswa.

X. NAMA-NAMA PESERTA

Dalam praktek kerja lapangan ini akan diikuti oleh mahasiswa-mahasiswa dengan perincian sebagai berikut:

No

Nama Mahasiswa

NIM

BIDANG PKL

Jurusan

1.

RAHMI FAJRIYAH

1107073

Sistem Produksi dan Quality Control

Teknik dan Manajemen Industri

XI. PENUTUP

Demikian proposal kegiatan PKL ini kami sampaikan dengan harapan pihak perusahaan dapat mempertimbangkan dan menerima mahasiswa STMI untuk dapat mengikuti praktek kerja lapangan pada perusahaan ini.

Akhirnya kami mengucapkan terima kasih semoga setiap langkah dan perbuatan kita diridhoi oleh Allah SWT.

Jakarta, 5 Agustus 2010

Mengetahui,

Kajur Teknik Manajemen Industri



Gerrit Herry Parengkuan, Msc

NIM. 1107073




Ramadhan

BULAN RAHMAT, BERAMAL SOLEH DAN BERPUASA

Bulan Ramadhan benar-benar memberikan pulangan yang besar dan ibarat pasar untuk dagangan ke akhirat. Ditamsilkan juga seperti tanah yang subur untuk bercucuk tanam menuju ke sana. Perbuatan yang hidup dan cergas di dalam bulan ini dikiaskan seperti hujan April yang turun pada musim bunga. Bulan ini juga merupakan festival yang amat mulia bagi orang-orang yang mengabdikan diri kepada tuhannya. (The Risale-i Nur Collection, Letters, The Twenty-Ninth Letter).

Seperti yang diungkapkan Bediuzzaman Said Nursi kepada kita melalui kalimat yang indah ini, bulan Ramadhan mempunyai kuasa suci bagi perayaan umat Islam. Umat Islam yang bertakwa dan hidupnya sentiasa mencari keredhaan Allah tidak akan mengabaikan kewajipannya untuk berpuasa sepanjang bulan ini dengan penuh semangat dan keghairahan.

Puasa, seperti yang diwajibkan Allah "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" (Surah al-Baqarah: 183) dan "...berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui" (Surah al-Baqarah: 184) merupakan tugas yang tidak ternilai faedahnya bagi umat Islam. Kewajipan yang dilaksanakan oleh semua umat Islam akan meningkatkan semangat perpaduan di kalangan mereka yang bertebaran di serata alam. Kenyataan ini berdasarkan dengan aktiviti yang dilakukan bersama-sama ini sekaligus menguatkan kekuatan spiritual. Nabi Muhammad s.a.w. juga memperincikan kepentingan Ramadhan seperti berikut:

"Hai manusia! Telah datang kepada kamu satu bulan yang mulia, bulan rahmat... dimana bulan ini mewajibkan kamu berpuasa di siang hari dan sukarela bersolat pada malamnya. Barangsiapa yang mendekati Allah dengan melakukan segala amalan sunat di bulan ini akan menerima ganjaran seperti melakukan amalan wajib di lain hari. Ini merupakan bulan kesabaran dan kesabaran itu imbuhannya syurga. Ini juga bulan sedekah dan bulan dimana rezeki orang beriman bertambah..." (Diriwayatkan Ibn Khuzaymah).


Berpuasa menjadi peluang keemasan bagi orang beriman yang benar-benar takutkan Allah dan kesempatan dimanfaatkan untuk mendekatkan diri pada-Nya. Melaksanakan perintahnya dengan bersabar menahan lapar sepanjang hari selepas melewatkan sahur dan sebelum menyegerakan berbuka menjadi bukti menuntut keredhaan Allah. Disebabkan itulah, orang Islam yang istiqomah mencari keredhaan Allah akan meraikan bulan ini dengan penuh kesyukuran dan kegembiraan. Sepanjang bulan ini juga umat Islam akan memastikan setiap langkahnya dipenuhi dengan amalan-amalan yang diturunkan Allah selain menunaikan yang diwajibkan.

Tidak kurang juga mereka yang tidak mengamalkan hidup secara Islami di hari lain akan mengubah perilaku dengan berpuasa sepanjang Ramadhan. Ini kerana mereka percaya Allah akan membersihkan dan menyucikan kesalahan mereka dengan menunaikan kewajipan ini. Dengan itu, secara tidak langsung bulan ini bermakna seseorang itu akan mendekati agamanya dan meninggalkan perbuatan buruk yang dilakukannya.

Bulan ini juga sesungguhnya telah menurunkan kadar jenayah dengan peratusan yang tinggi di seluruh negara Islam. Penipuan, pengkhianatan, fitnah dan umpat mengumpat akan ditinggalkan kerana mereka menyedari akan larangan ketika berpuasa. Semangat dan keazaman mereka untuk berfikir dan melakukan perbuatan baik juga meningkat. Dalam erti kata lain, berpuasa seperti memandu mereka untuk berfikir sesuatu yang tidak pernah terlintas langsung di minda mereka. Bagi sesetengah individu pula, bulan ini digunakan untuk berehat sambil melakukan amal yang soleh dan perbuatan mulia.

Di dalam kalimat yang lain, Bediuzzaman Said Nursi menerangkan bagaimana semua pancaindera orang berpuasa beralih arah dalam pengabdian:

Kejayaan yang bermakna ketika berpuasa ialah dengan menjadikan semua pancaindera dan organ seperti mata, telinga, hati, dan fikiran turut sama berpuasa bersama-sama perut. Dengan ini akan mengelakkannya dari melakukan perkara yang sia-sia dan mendorongnya melakukan amalan pengabdian.

Salah satu hikmah dari berpuasa ialah membolehkan seseorang itu menzahirkan kesyukuran di atas segala rahmat yang Allah limpahkan. Musibatlah bagi mereka yang menggunakan sewenangnya rahmat Allah tetapi tidak tahu untuk berterima kasih pada yang memberi. Bagi mereka semua rahmat ini merupakan hak yang memang patut diterimanya. Allah banyak menyarankan kepada hamba-Nya di dalam Al-Quran supaya sentiasa bersyukur di atas rahmat yang dikurnai-Nya. Allah juga berjanji akan melipatgandakan rahmat bagi mereka yang bersyukur.

Orang yang berpuasa juga akan dilindungi Allah dari segala hasutan syaitan untuk melupakan manusia dari bersyukur. Mereka yang tidak pernah merenung untuk berfikir berapa banyak kurniaan yang telah Allah turunkan akan mula mengucapkan syukur berulang kali di atas segala peluang dan kesihatan yang dikecapinya. Bediuzzaman Said Nursi megatakan bahawa berpuasa di bulan Ramadhan adalah "kunci kepada kebenaran, keikhlasan, kemuncak dan kesejagatan syukur".

Tambahan pula, mereka yang berpuasa akan merasai betapa kerdilnya dirinya di hadapan Allah dan memahami betapa perlunya dirinya kepada Allah. Segala desakan nafsunya menjadi lemah dan kesombongannya bertukar luntur. Memetik dari buku Bediuzzaman Said Nursi:

Bulan Ramadhan akan mengubah jiwa naluri seseorang. Dari sekaya-kaya menjadi semiskin-miskin kerana memahami bahawa harta itu bukan miliknya malah kepunyaan semua orang. Dirasakan juga dirinya tidaklah merdeka tetapi adalah hamba. Diketahui sekiranya tidak diterima sebarang arahan, tidak akan berupaya melakukan sebarang kerja mudah dan senang ibarat tidak dapat menyentuhkan tangan ke dalam air.

Selain pelbagai faedah yang diperolehi dari berpuasa, kesabaran juga antara karakter yang boleh dipupuk dan meyakini kesengsaraan itu mendidik untuk memajukan seseorang. Sebab itulah Bediuzzaman Said Nursi mengatakan: "puasa itu merupakan penawar bagi mereka yang kurang kesabaran dan kurang ketahanan walaupun digabungkan masalah dua orang dalam satu individu". Semua ganjaran yang Allah janjikan akan dikurniakan bagi mereka yang memenuhi kewajipan dengan berpuasa untuk meningkatkan keimanan kepada-Nya. Semua ganjaran ini merupakan balasan di atas ketaatan kepada agama yang dilakukan dengan penuh semangat walaupun orang lain tidak tahu betapa payahnya ketika berhadapan dengan kelaparan ini.Apa yang dijelaskan tidaklah merangkumi semua faedah yang diperolehi dari bulan Ramadhan dan puasa. Ada banyak lagi kebaikan yang tidak kita ketahui atau tidak dihargai tetapi Allah tetap mengurniakannya pada kita di sebalik kewajipan puasa itu.





Ciri-ciri wanita Solehah

Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita menerima gelaran solehah, dan seterusnya menerima pahala syurga yang penuh kenikmatan dari Allah s.w.t.

Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat iaitu :
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
2. Taat kepada suami
Perincian dari dua syarat di atas adalah sebagai berikut :
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
Bagaimana yang dikatakan taat kepada Allah s.w.t. ?
- Mencintai Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. melebihi dari segala-galanya.
- Wajib menutup aurat
- Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah
- Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa kecuali ada mahram bersamanya
- Sering membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan taqwa
- Berbuat baik kepada ibu & bapa
- Sentiasa bersedekah baik dalam keadaan susah ataupun senang
- Tidak berkhalwat dengan lelaki dewasa
- Bersikap baik terhadap tetangga

2. Taat kepada suami

- Memelihara kewajipan terhadap suami
- Sentiasa menyenangkan suami
- Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah
- Tidak bermasam muka di hadapan suami
- Tidak menolak ajakan suami untuk tidur
- Tidak keluar tanpa izin suami
- Tidak meninggikan suara melebihi suara suami
- Tidak membantah suaminya dalam kebenaran
- Tidak menerima tamu yang dibenci suaminya
- Sentiasa memelihara diri, kebersihan & kecantikannya serta rumah tangga

FAKTOR YANG MERENDAHKAN MARTABAT WANITA

Sebenarnya puncak rendahnya martabat wanita adalah dari faktor dalaman. Bukanlah faktor luaran atau yang berbentuk material sebagaimana yang digembar-gemburkan oleh para pejuang hak-hak palsu wanita.

Faktor-faktor tersebut ialah:

1) Lupa mengingat Allah

Kerana terlalu sibuk dengan tugas dan kegiatan luar atau memelihara anak-anak, maka tidak hairanlah jika banyak wanita yang tidak menyedari bahawa dirinya telah lalai dari mengingat Allah. Dan saat kelalaian ini pada hakikatnya merupakan saat yang paling berbahaya bagi diri mereka, di mana syaitan akan mengarahkan hawa nafsu agar memainkan peranannya.

Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-Jathiah, ayat 23: ertinya:

” Maka sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.”

Sabda Rasulullah s.a.w.: ertinya:
“Tidak sempurna iman seseorang dari kamu, sehingga dia merasa cenderung kepada apa yang telah aku sampaikan.” (Riwayat Tarmizi)

Mengingati Allah s.w.t. bukan saja dengan berzikir, tetapi termasuklah menghadiri majlis-majlis ilmu.

2) Mudah tertipu dengan keindahan dunia.

Keindahan dunia dan kemewahannya memang banyak menjebak wanita ke perangkapnya. Bukan itu saja, malahan syaitan dengan mudah memperalatkannya untuk menarik kaum lelaki agar sama-sama bergelumang dengan dosa dan noda. Tidak sedikit yang sanggup durhaka kepada Allah s.w.t. hanya kerana kenikmatan dunia yang terlalu sedikit.

Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-An’am: ertinya:

” Dan tidaklah penghidupan dunia ini melainkan permainan dan kelalaian dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, oleh kerana itu tidakkah kamu berfikir.”

3) Mudah terpedaya dengan syahwat.

4) Lemah iman.

5) Bersikap suka menunjuk-nunjuk.

Dunia adalah perhiasan, perhiasan dunia yang terbaik adalah Wanita yang solehah.


Senin, 26 Juli 2010

amalan dan keutamaan bulan syaban

Sya’ban merupakan salah satu bulan yang mulia dan pintu menuju bulan Ramadlan. Siapa yang berupaya membiasakan diri bersungguh-sungguh dalam beribadah dalam bulan tersebut, akan menuai kesuksesan di bulan Ramadlan. asal nama Sya’ban, karena pada bulan itu terpancar bercabang-cabang kebaikan yang banyak (yatasya’abu minhu khairun katsir). kalau dari pendapat lain, Syaban berasal dari kata Syi’b,yang berarati jalan di sebuah gunung atau jalan kebaikan. Dalam bulan ini terdapat banyak kejadian dan peristiwa yang patut memperoleh perhatian dari kalangan muslimin dari penjuru dunia.

Syaban dan Pindah Qiblat
Dalam bulan Sya’ban, Qiblat berpindah dari Baitul Maqdis, Palestina ke Ka’bah, Mekah al Mukarromah. Hikayatnya, Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam menanti-nanti datangnya peristiwa ini dengan harapan yang sangat tinggi. Setiap hari Beliau tidak lupa menengadahkan wajahnya ke langit, menanti datangnya wahyu dari Rabbnya. Sampai akhirnya Allah Subhanahu Wata’ala mengabulkan penantiannya. Wahyu Allah Subhanahu Wata’ala turun. “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al Baqarah; 144)

Diangkatnya Amal Manusia (hadist)
Salah satu keistimewaan bulan Sya’ban adalah diangkatnya amal-amal manusia pada bulan ini ke langit. Diriwayakan Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam suatu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasamu di bulan Sya’ban.” Beliau bersabda: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada rabbul ‘alamin. Dan saya menyukai amal saya diangkat, sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa’i).

Anjuran dan Keutamaan Puasa di Bulan Sya’ban
Rasulullah ditanya oleh seorang sahabat, “Adakah puasa yang paling utama setelah Ramadlan?” Rasulullah Shollallahu alai wasallam menjawab, “Puasa bulan Syaban karena berkat keagungan bulan Ramadhan.”Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

Sepintas dari teks Hadits di atas, puasa bulan Syaban lebih utama dari pada puasa bulan Rajab dan bulan-bulan mulia (asyhurul hurum) lainnya. Padahal Abu Hurairah telah menceritakan sabda dari Rasulullah Shollallu alaihi wasallam, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan-bulan mulia (asyhurul hurum).” Menurut Imam Nawawi, hal ini terjadi karena keutamaan puasa pada bulan-bulan mulia (asyhurul hurum) itu baru diketahui oleh Rasulullah di akhir hayatnya sebelum sempat beliau menjalaninya, atau pada saat itu beliau dalam keadaan udzur (tidak bisa melaksanakannya) karena bepergian atau sakit.

Sesungguhnya Rasulullah Shollallu alaihi wasallam mengkhususkan bulan Sya’ban dengan puasa itu adalah untuk mengagungkan bulan Ramadhan. Menjalankan puasa bulan Sya’ban itu tak ubahnya seperti menjalankan sholat sunat rawatib sebelum sholat maktubah. Jadi dengan demikian, puasa Sya’ban adalah sebagai media berlatih sebelum menjalankan puasa Ramadhan.

Adapun berpuasa hanya pada separuh kedua bulan Syaban itu tidak diperkenankan, kecuali:
1. Menyambungkan puasa separuh kedua bulan Sya’ban dengan separuh pertama.
2. Sudah menjadi kebiasaan.
3. Puasa qodlo.
4. Menjalankan nadzar.
5. Tidak melemahkan semangat puasa bulan Ramadhan.

Turun Ayat tentang Sholawat Nabi
Salah satu keutamaan bulan Sya’ban adalah diturunkannya ayat tentang anjuran membaca sholawat kepada Nabi Muhammad Shollallu alaihi wasallam pada bulan ini, yaitu ayat: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al Ahzab;56)

Sya’ban, Bulan Al Quran
Bulan Sya’ban dinamakan juga bulan Al Quran, sebagaimana disebutkan dalam beberapa atsar. Memang membaca Al Quran selalu dianjurkan di setiap saat dan di mana pun tempatnya, namun ada saat-saat tertentu pembacaan Al Quran itu lebih dianjurkan seperti di bulan Ramadhan dan Sya’ban, atau di tempat-tempat khusus seperti Mekah, Roudloh dan lain sebagainya. Syeh Ibn Rajab al Hambali meriwayatkan dari Anas, “Kaum muslimin ketika memasuki bulan Sya’ban, mereka menekuni pembacaan ayat-ayat Al Quran dan mengeluarkan zakat untuk membantu orang-orang yang lemah dan miskin agar mereka bisa menjalankan ibadah puasa Ramadhan”.

Malam Nisfu Syaban
Pada bulan Sya’ban terdapat malam yang mulia dan penuh berkah yaitu malam Nishfu Sya’ban. Di malam ini Allah Subhanahu wata’ala mengampuni orang-orang yang meminta ampunan, mengasihi orang-orang yang minta belas kasihan, mengabulkan doa orang-orang yang berdoa, menghilangkan kesusahan orang-orang yang susah, memerdekakan orang-orang dari api neraka, dan mencatat bagian rizki dan amal manusia.

Banyak Hadits yang menerangkan keistimewaan malam Nishfu Sya’ban ini, sekalipun di antaranya ada yang dlo’if (lemah), namun Al Hafidh Ibn Hibban telah menyatakan kesahihan sebagian Hadits-Hadits tersebut, di antaranya adalah: “Nabi Muhammad Shollallhu alaihi wasallam bersabda, “Allah melihat kepada semua makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban dan Dia mengampuni mereka semua kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Thabarani dan Ibnu Hibban).

Para ulama menamai malam Nishfu Syaban dengan beragam nama. Banyaknya nama-nama ini mengindikasikan kemuliaan malam tersebut.
1. Lailatul Mubarokah (malam yang penuh berkah).
2. Lailatul Qismah (malam pembagian rizki).
3. Lailatut Takfir (malam peleburan dosa).

4. Lailatul Ijabah (malam dikabulkannya doa)
5. Lailatul Hayah walailatu ‘Idil Malaikah (malam hari rayanya malaikat).
6. Lalilatus Syafa’ah (malam syafa’at)
7.Lailatul Baro’ah (malam pembebasan). Dan masih banyak nama-nama yang lain.

Pro dan Kontra Seputar Nishfu Sya’ban
Al Hafidh Ibn Rojab al Hambali dalam kitab al Lathoif mengatakan, “Kebanyakan ulama Hadits menilai bahwa Hadits-Hadits yang berbicara tentang malam Nishfu Sya’ban masuk kategori Hadits dlo’if (lemah), namun Ibn Hibban menilai sebagaian Hadits itu shohih, dan beliau memasukkannya dalam kitab shohihnya.” Ibnu Hajar al Haitami dalam kitab Addurrul Mandlud mengatakan, “Para ulama Hadits, ulama Fiqh dan ulama-ulama lainnya, sebagaimana juga dikatakan oleh Imam Nawawi, bersepakat terhadap diperbolehkannya menggunakan Hadits dlo’if untuk keutamaan amal (fadlo’ilul amal), bukan untuk menentukan hukum, selama Hadits-Hadits itu tidak terlalu dlo’if (sangat lemah).”Jadi, meski Hadits-Hadits yang menerangkan keutamaan malam Nisfu Syaban disebut dlo’if (lemah), tapi tetap boleh kita jadikan dasar untuk menghidupkan amalan di malam Nishfu Sya’ban.

Kebanyakan ulama yang tidak sepakat tentang menghidupkan malam Nishfu Sya’ban itu karena mereka menganggap serangkaian ibadah pada malam tersebut itu adalah bid’ah, tidak ada tuntunan dari Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam. Sedangkan pengertian bid’ah secara umum menurut syara’ adalah sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah. Jika demikian secara umum bid’ah itu adalah sesuatu yang tercela (bid’ah sayyi’ah madzmumah). Namun ungkapan bid’ah itu terkadang diartikan untuk menunjuk sesuatu yang baru dan terjadi setelah Rasulullah wafat yang terkandung pada persoalan yang umum yang secara syar’i dikategorikan baik dan terpuji (hasanah mamduhah).

Imam Ghozali dalam kitab Ihya Ulumiddin Bab Etika Makan mengatakan, “Tidak semua hal yang baru datang setelah Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam itu dilarang. Tetapi yang dilarang adalah memperbaharui sesuatu setelah Nabi (bid’ah) yang bertentangan dengan sunnah.” Bahkan menurut beliau, memperbaharui sesuatu setelah Rasulullah (bid’ah) itu terkadang wajib dalam kondisi tertentu yang memang telah berubah latar belakangnya.”

Imam Al Hafidh Ibn Hajjar berkata dalam Fathul Barri, “Sesungguhnya bid’ah itu jika dianggap baik menurut syara’ maka ia adalah bid’ah terpuji (mustahsanah), namun bila oleh syara’ dikategorikan tercela maka ia adalah bid’ah yang tercela (mustaqbahah). Bahkan menurut beliau dan juga menurut Imam Qarafi dan Imam Izzuddin ibn Abdis Salam bahwa bid’ah itu bisa bercabang menjadi lima hukum.
Syeh Ibnu Taimiyah berkata, “Beberapa Hadits dan atsar telah diriwayatkan tentang keutamaan malam Nisyfu Sya’ban, bahwa sekelompok ulama salaf telah melakukan sholat pada malam tersebut. Jadi jika ada seseorang yang melakukan sholat pada malam itu dengan sendirian, maka mereka berarti mengikuti apa yang dilakukan oleh ulama-ulama salaf dulu, dan tentunya hal ini ada hujjah dan dasarnya. Adapun yang melakukan sholat pada malam tersebut secara jamaah itu berdasar pada kaidah ammah yaitu berkumpul untuk melakukan ketaatan dan ibadah.

Walhasil, sesungguhnya menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan serangkaian ibadah itu hukumnya sunnah (mustahab) dengan berpedoman pada Hadits-Hadits di atas. Adapun ragam ibadah pada malam itu dapat berupa sholat yang tidak ditentukan jumlah rakaatnya secara terperinci, membaca Al Quran, dzikir, berdo’a, membaca tasbih, membaca sholawat Nabi (secara sendirian atau berjamaah), membaca atau mendengarkan Hadits, dan lain-lain.

Tuntunan Nabi di Malam Nisyfi Sya’ban
Rasulullah telah memerintahkan untuk memperhatikan malam Nisyfi Sya’ban, dan bobot berkahnya beramal sholeh pada malam itu diceritakan oleh Sayyidina Ali Rodliallahu anhu, Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika tiba malam Nisyfu Sya’ban, maka bersholatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya karena sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menurunkan rahmatnya pada malam itu ke langit dunia, yaitu mulai dari terbenamnya matahari. Lalu Dia berfirman, ‘Adakah orang yang meminta ampun, maka akan Aku ampuni? Adakah orang meminta rizki, maka akan Aku beri rizki? Adakah orang yang tertimpa musibah, maka akan Aku selamatkan? Adakah begini atau begitu? Sampai terbitlah fajar.’” (HR. Ibnu Majah)

Malam Nishfu Syaban atau bahkan seluruh bulan Sya’ban sekalipun adalah saat yang tepat bagi seorang muslim untuk sesegera mungkin melakukan kebaikan. Malam itu adalah saat yang utama dan penuh berkah, maka selayaknya seorang muslim memperbanyak aneka ragam amal kebaikan. Doa adalah pembuka kelapangan dan kunci keberhasilan, maka sungguh tepat bila malam itu umat Islam menyibukkan dirinya dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala. Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam mengatakan, “Doa adalah senjatanya seorang mukmin, tiyangnya agama dan cahayanya langit dan bumi.” (HR. Hakim). Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam juga mengatakan, “Seorang muslim yang berdoa -selama tidak berupa sesuatu yang berdosa dan memutus famili-, niscaya Allah Subhanahu wata’ala menganugrahkan salah satu dari ketiga hal, pertama, Allah akan mengabulkan doanya di dunia. Kedua, Allah baru akan mengabulkan doanya di akhirat kelak. Ketiga, Allah akan menghindarkannya dari kejelekan lain yang serupa dengan isi doanya.” (HR. Ahmad dan Barraz).

Tidak ada tuntunan langsung dari Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam tentang doa yang khusus dibaca pada malam Nishfu Sya’ban. Begitu pula tidak ada petunjuk tentang jumlah bilangan sholat pada malam itu. Siapa yang membaca Al Quran, berdoa, bersedekah dan beribadah yang lain sesuai dengan kemampuannya, maka dia termasuk orang yang telah menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dan ia akan mendapatkan pahala sebagai balasannya.

Kebiasaan yang berlaku di masyarakat, yaitu membaca Surah Yasin tiga kali, dengan berbagai tujuan, yang pertama dengan tujuan memperoleh umur panjang dan diberi pertolongan dapat selalu taat kepada Allah. Kedua, bertujuan mendapat perlindungan dari mara bahaya dan memperoleh keluasaan rikzi. Dan ketiga, memperoleh khusnul khatimah (mati dalam keadaan iman), itu juga tidak ada yang melarang, meskipun ada beberapa kelompok yang memandang hal ini sebagai langkah yang salah dan batil.

Dalam hal ini yang patut mendapat perhatian kita adalah beredarnya tuntunan-tuntunan Nabi tentang sholat di malam Nishfu sya’ban yang sejatinya semua itu tidak berasal dari beliau. Tidak berdasar dan bohong belaka. Salah satunya adalah sebuah riwayat dari Sayyidina Ali, “Bahwa saya melihat Rasulullah pada malam Nishfu Sya’ban melakukan sholat empat belas rekaat, setelahnya membaca Surat Al Fatihah (14 x), Surah Al Ikhlas (14 x), Surah Al Falaq (14 x), Surah Annas (14 x), ayat Kursi (1 x), dan satu ayat terkhir Surat At Taubah (1 x). Setelahnya saya bertanya kepada Baginda Nabi tentang apa yang dikerjakannya, Beliau menjawab, “Barang siapa yang melakukan apa yang telah kamu saksikan tadi, maka dia akan mendapatkan pahala 20 kali haji mabrur, puasa 20 tahun, dan jika pada saat itu dia berpuasa, maka ia seperti berpuasa dua tahun, satu tahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Dan masih banyak lagi Hadits-Hadits palsu lainnya yang beredar di tengah-tengah kaum muslimin. (Disarikan dari “Madza fi Sya’ban”, karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki, Muhadditsul Haromain).